Dengan jaket tebal yang melekat di tubuhku sore itu, aku berjalan pulang menuju rumah dari sekolah. Sore itu, aku hanya berjalan sendirian, seperti biasa. Tak ada bedanya dari hari-hari biasanya. Aku mampir sebentar ke minimarket di jalan menuju rumahku hanya untuk membeli dua buah roti dengan sebotol air mineral, untuk makan malam. Aku memang tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan mewah. Aku hanya mengandalkan penghasilanku setiap hari minggu sebagai penjaga toko rental DVD di kota. Cukup untuk membeli makanan instan selama seminggu. Ya, kusisihkan sedikit untuk membayar tagihan listrik, air, dan sebagainya. Itulah kenapa aku hanya membeli roti dan air mineral untuk makan malam.
"Aku pulang!". Tak ada yang menjawab. Iya, seperti dugaanmu. Aku hidup sendiri. Orang tuaku bekerja di tempat yang jauh dari tempatku tinggal. Mereka pindah saat aku baru sebulan masuk ke SMA. Sudah hampir 2 tahun aku tak melihat mereka. Bahkan, aku tak tahu kabar mereka. Tapi, aku percaya suatu saat mereka pasti akan kembali. Setidaknya, itulah yang aku percayai hingga aku bisa bertahan hidup sampai sekarang.
"Ting tong!". Bel berbunyi. Aku bergegas membukakan pintu. Ternyata, itu Serena, anak perempuan yang tinggal di sebelah rumahku. Dia baik sekali kepadaku. Dia sering memberikan makanan kepadaku. Kebetulan, dia seumuran denganku. Sepertinya, hanya dia orang yang dekat denganku.
"Ini! kubawakan sedikit makanan buatan ibuku". Sambil melontarkan senyumannya, dia menyodorkan kotak makanan yang dibawanya. "Oh iya. Aku punya novel baru nih, Kev! Mau pinjam nggak?". "Wah, terima kasih!". Dia tahu, aku suka membaca novel terutama novel bertema fantasi. Aku tak tahu bagaimana dia mengetahuinya, tapi aku benar-benar senang ada yang mengerti apa yang aku sukai. "Aku pulang, ya! Sampai jumpa lagi!".
Aku bergegas mandi karena hari mulai gelap. Aku menyimpan novel dan makanan pemberian Serena di meja makan. Meski saat itu hawanya dingin sekali, aku mandi dengan air dingin. Aku sudah terbiasa dengan ini. Memanaskan air menurutku membuang-buang waktu. Tentu, membuang gas yang aku keluarkan sedikit demi sedikit untuk memasak sarapan dan bekal makan siang.
Akhirnya, aku selesai mandi. Aku memakai kaos lengan panjang berwarna biru dengan celana panjang berwarna coklat. Ya, aku tak pernah memakai piyama karena memang aku tidak punya itu. Sebenarnya aku punya, hanya saja ukurannya sudah tak muat di tubuhku.
Kulanjutkan kegiatanku dengan makan malam. Untungnya, aku mendapat kiriman makanan tadi sore dari Serena. Jadi, aku mendapat lebih banyak asupan gizi malam ini. Sambil menikmati makananku, di sebelah piringku kusimpan novel yang baru aku pinjam tadi. Aku akan membacanya setelah makan.
"Hmm... Fantasia. Aku baru dengar. Mungkin seru". Lalu aku membacanya dengan tenang. Aku ingin menyelesaikannya malam ini, karena besok hari libur dan pekerjaanku tidak dimulai saat pagi.
Malam sudah mulai larut. Aku baru sampai pertengahan halaman. Tiba-tiba, aku menemukan sebuah kejanggalan dalam novel ini. Ada halaman kosong di bagian tengahnya. Bahkan tidak hanya satu. Mungkin ada sekitar 6 halaman kosong. Tapi di halaman kosong ke 3 dan ke 4, ada sebuah tulisan besar aneh yang menggangguku. "Fantasia 3x". Itulah yang tertulis di 2 halaman kosong tersebut. Mungkin ini sebuah perintah? Atau apa?
"Oke, aku akan membacanya. Fantasia, fantasia, fantasia". Dan tiba-tiba "Duarrr!!!" suara petir menyambar. Aku kaget setengah mati. Pasti, karena suara petir itu terdengar sangat dekat. Tapi aku tak mempedulikannya lagi. Aku melanjutkan membaca.
Aku selesai membaca satu paragraf. Tapi tiba-tiba, aku merasakan perasaan ngantuk yang luar biasa. Aku hampir tak bisa membuka mataku karena kelopak mata itu terasa sangat berat. Tak perlu menunggu lama aku terlelap begitu saja di meja makan, dan aku tak ingat apapun setelah itu.
"Bugh!". Bagian belakang tubuhku sakit sekali. Sepertinya aku terjatuh dari suatu tempat yang tinggi dan mendarat di suatu tempat berumput. Aku tak bisa melihat apa-apa selama beberapa waktu. Sedikit demi sedikit, aku berhasil mendapatkan penglihatanku kembali. Meski masih remang-remang, aku bisa melihat cahaya di atasku, tepatnya di langit. Iya, itu bulan. Dari sana, aku sadar bahwa aku berada di luar ruangan. Terdengar suara binatang-binatang malam bersahutan. Aku berusaha untuk mendapatkan kembali penglihatanku secepatnya dengan berkedip-kedip. Hingga...
"Hah?! Dimana aku?!".
